Senin, 19 April 2010

BIMBINGLAH DIRI KITA UNTUK MENJADI ‘KITA’

Manusia terlahir dengan memiliki gen berupa informasi bakat yang terdapat di dalam dirinya. Bahkan seorang pemimpin pun bisa juga berasal dari bakat di dalam gennya misalkan dalam seni untuk memimpin. Namun itu hanyalah teori lama, karena ada factor-faktor lain yang menentukan berhasil tidaknya gen itu dapat dikembangkan. Faktor tersebut antara lain lingkungan yang mempengaruhi sesorang, kemampuan seseorang untuk melihat gen berupa bakat di dalam dirinya yang kemudian dapat dikembangkan, serta motivasi dari dalam sesorang itu sendiri untuk mau mengembakan bakatnya. Dalam acara training-training motivasi yang sering kita ikuti pun, seorang trainer biasanya juga berbicara kebiasaanlah yang menjadi bakat kita. Rinciannya seperti ini, kebiasaan menjadikan karakter, kemudian karakter ini menjadi ciri khas kita dan inilah sebenarnya bakat kita. Dari sini dapat dilihat bahwa sudahkah kita menemukan bakat kita? Atau sudahkah kita menentukan kebiasaan kita?

Berbicara mengenai kesuksesan kita pasti tidak lepas dari orang yang terdapat di belakang kita, yaitu “guru” kita. “Guru” disini maksudnya bisa guru kita sesungguhnya, orang tua, senior, teman, buku yang kita baca, atau apapun itu yang telah mengajari kita. Namun, guru jarang disebut keberadaannya ketika kita sukses. Bila kita yang saat itu sedang sukses kemudian menceritakan kasuksesan kita kepada orang lain itu di dapat dari mana, kemudian kita menyebut guru kita berarti guru tersebut merupakan orang yang sukses walaupun guru itu merupakan “pahlawan tanpa balas jasa”. Bila disini posisi Anda adalah menjadi si guru, maka buatlah murid anda untuk mendapatkan hasil. Misalnya pada buku yang telah saya baca judulnya Guru Goblok ketemu Murid Goblok, disana diceritakan bahwa dosen yang sukses mestinya bisa membuat mahasiswanya lulus dengan membuat minimal 1 judul buku sebagai karya yang dihasilkan. Sedangkan bila posisi Anda disini adalah murid, maka jangan berhenti untuk mengejar ilmu dari guru Anda sebagai usaha untuk mengembangkan bakat anda atau menentukan kebiasaan apa yang akan Anda tempuh, sehingga setelah Anda sukses jangan lupa untuk berterima kasih pada guru Anda.
   
Salah satu factor lingkungan yang mempengaruhi kebiasaan yang membentuk jati diri kita adalah melalui keluarga. Ingat saja dulu ketika kita kecil dan mendapatkan bimbingan dari orang tua. Pesan sifat positif dari orang tua bisa nyampek ke kita kalau saja kita bukan orang “bandel”. Bandel maksudnya menangkap lain dari yang orang tua sampaikan, sehingga bukan isinya yang nyampek di kepala. Misalnya dalam beberapa hal yang terdapat di rumah kemudian menjadikan kita menjadi keiasaan dalam sesuatu, mungkin saja kebiasaan yang kita lakukan salah atau benar, sehingga kalu kebiasaan yang kita lakukan salah maka orang tua akan mengingatkan kepada kita bahwa itu adalah salah, tinggal kitanya menangkap maksud pesan salah itu seperti apa. Bimbingan itu juga yang akan mengerucutkan kita kepada kebiasaan sesuatu atau kita dapat menemukan bakat kita melalui hal tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada lingkungan sekolah, tempat bermain, tempat les, juga tempat lainnya yang disitu secara langsung atau tidak, kita mendapatkan bimbingan untuk menemukan kebiasaan kita ataupun bakat kita.
 
Hingga sampai Anda membaca tulisan ini, sudahkah Anda menemukan kebiasaan Anda? Atau menemukan bakat Anda? Jika sudah maka tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi Anda untuk terus mengembangkan karakter Anda. Bila sampai detik ini Anda belum menemukan kebiasaan  atau bakat Anda maka disinilah saat yang tepat Anda untuk menemukan siapa Anda.

Pada paragraph sebelumnya telah disinggung orang lain yang membimbing kita, namun lingkungan itu tidak selamanya tetap, orang akan terus berubah, orang akan berpindah sehingga dinamisasi itu akan selalu ada. Di saat seperti ini sebenarnya orang yang paling bisa membimbing kita adalah diri kita sendiri. Ketika kita dewasa, akan ada berbagai macam cara bijaksana yang kita ambil sebagai keputusan kita, pemikiran keputusan kita bisa dari saran teman, atau orang lain yang tidak semuanya kita telan mentah-mentah, hasil dari olahan pemikiran kita itulah keputusan kita  Salah ambil keputusan ya biasalah namanya juga belajar yang lama-lama menjadi bisa. Namun, sibuk oleh diri sendiri untuk menyelesaikan masalah kita maka kita bisa lupa untuk menentukan kebiasaan kita atau bakat kita. Atau jangan-jangan kebiasaan kita hanya menyelesaikan masalah kita, itu sih bukan kebiasaan namanya, semua orang juga seperti itu. Mungkin kita juga bisa menjadi seperti orang yang terdapat dalam buku One Person Multiple Carier, misalnya dahulu kebiasaan kita apa, yang kemudian sekarang juga dikembangkan kebiasaan tersebut, juga dengan mempelajari kebiasaan baru Anda, sehingga semuanya dapat menjadi menghasilkan. Semua itu adalah terserah tergantung seseorang dalam mengambil keputusan. Yang jelas disini semua yang kita lakukan karena kita membimbing diri kita sendiri untuk menjadi apa yang kita pilih. Sehingga yang ditekankan disini adalah jangan berhenti untuk membimbing diri kita untuk menjadi “kita”. Kita seperti sukses apa yang kita impikan.

 Dari sini maka Sudahkah Anda membimbing diri Anda? Jangan berhenti maka lanjutkanlah terus membimbing diri Anda. Mulai dari temukan kebiasaan kita, kemudian pelajari teurs dan pelajari lagi sampai visi misi sukses itu kita dapatkan. Ketika kegagalan yang terjadi maka mulailah lagi karena kebiasaan kita ada yang salah disitu dan perlu untuk diperbaiki. Ada yang bilang kalau orang itu bisa dilihat dari visi misinya dan keluarganya. Ya tu memang ada benarnya. Kalau menurut pendapat saya sendiri orang itu bisa dilihat dari kebiasaanya kemudian “siapa pembimbingnya” untuk menuju kesuksesannya.Sehingga teruslah membimbing diri kita untuk menjadi sukses seperti apa yang kita raih.